Belajar dari seorang penipu? Kenapa tidak.
Pernah ketipu? Bertemu Penipu? Bergaul dengan Penipu? Kalau Saya sendiri dulu pernah bergaul dan berteman dengan seorang penipu, dan tentunya itu semua terjadi sebelum tahu kalau orang itu ternyata adalah seorang penipu.
Tidak tanggung-tanggung penipu yang Saya kenal itu adalah seorang penipu kelas kakap. Setidaknya dia telah menipu puluhan orang dengan total kerugian materi lebih dari puluhan juta. Yang ditipunya juga tidak tanggung-tanggung, mulai dari mahasiswa hingga para pengusaha.
Oke, lalu apa yang dapat dipelajari dari penipu itu?
Sebelumnya Saya ingin berpesan kepanda Anda sebelum membaca lanjutan tulisan ini, pesannya adalah: "Selalulah Menjadi Orang yang Jujur"
1. Penampilan bukan yang utama tapi yang pertama. Hal pertama yang Saya pelajari dari seorang penipu adalah soal penampilan. Maka dari itu saya nyatakan di sini penampilan bukan yang utama karena penampilan itu bisa saja dibuat-buat dan bukan menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Namun poin pembelajaran di sini adalah bahwa kita harus mau menjaga penampilan, terutama ketika kita merencanakan untuk bertemu dengan orang untuk pertama kalinya. Pada umumnya orang membuat asumsi tentang orang yang dia kenal adalah dari penampilan saat pertama kali bertemu.
2. Teknik berkomunikasi yang baik. Pembelajaran yang kedua adalah kita harus mau untuk belajar teknik berkomunikasi yang baik. Keahlian berkomunikasi mutlak diperlukan kalau kita ingin meraih kepercayaan orang. Untuk hal ini banyak-banyaklah untuk membaca buku tentang teknik berkomunikasi dan jangan pernah menunda untuk langsung dipraktekkan ilmunya.
3. Berwawasan luas. Ternyata penipu yang Saya kenal itu tiadak pernah malas untuk membaca buku, koran dan majalah, serta rajin browsing di internet. Tidak lain adalah untuk memperluas wawasan. Selain untuk menjaga agar komunikasi tetap nyambung, ternyata semakin banyak referensi yang kita miliki berefek pada ucapan kita yang makin berisi.
Dan poin pembelajaran yang terakhir adalah: laksanakanlah amanah dengan sebaik mungkin, karena ketika kita mengecewakan orang yang benar-benar percaya pada kita maka kepercayaan itu akan super sangat mbahnya sulit untuk didapat kembali.
Semoga bermanfaat :)
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Wednesday, May 13, 2009
Monday, January 26, 2009
Berani Membuat Impian
Kita harus berani membuat impian. Meski dengan kondisi kita sekarang yang bagaimana pun, janganlah merasa takut untuk memiliki impian. Sebab impian dapat menjadi blue print dari kehidupan dan masa depan kita. Artinya impian berpengaruh dalam membentuk masa depan kita.
Yakinlah dengan impian yang telah kita bentuk. Impian yang positif akan menjadi visi kita yang posotif, yang juga memberikan kekuatan positif pada diri kita. Jika impian kita telah tertanam dalam di dalam diri kita, impian akan memompa kinerja kita dan meningkatkan kualitan hidup.
Presiden pertama kita, Ir. Soekarno, pernah berkata, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.” Impian yang kuat dapat memberi sugesti kepada kita, dan mengarahkan langkah kita menuju impian tersebut.
Tak jauh berbeda dengan Ir. Soekarno, kita yang juga pemimpin (setidaknya pemimpin bagi diri kita sendiri) haruslah menganggap penting akan impian yang kita buat. Karena sebagai pemimpin, impian kita juga mengarahkan apa yang kita pimpin. Impian kita akan menjadi layaknya obor yang akan menerangi kita dalam mencari jalan.
Janganlah kita takut untuk membuat impian. Membuat impian itu tidak perlu biaya, semua orang bisa membuat impian. Meski begitu tidak semua orang punya keberanian membuat impian. Membuat impian membutuhkan sebuah keberanian.
Yakinlah dengan impian yang telah kita bentuk. Impian yang positif akan menjadi visi kita yang posotif, yang juga memberikan kekuatan positif pada diri kita. Jika impian kita telah tertanam dalam di dalam diri kita, impian akan memompa kinerja kita dan meningkatkan kualitan hidup.
Presiden pertama kita, Ir. Soekarno, pernah berkata, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.” Impian yang kuat dapat memberi sugesti kepada kita, dan mengarahkan langkah kita menuju impian tersebut.
Tak jauh berbeda dengan Ir. Soekarno, kita yang juga pemimpin (setidaknya pemimpin bagi diri kita sendiri) haruslah menganggap penting akan impian yang kita buat. Karena sebagai pemimpin, impian kita juga mengarahkan apa yang kita pimpin. Impian kita akan menjadi layaknya obor yang akan menerangi kita dalam mencari jalan.
Janganlah kita takut untuk membuat impian. Membuat impian itu tidak perlu biaya, semua orang bisa membuat impian. Meski begitu tidak semua orang punya keberanian membuat impian. Membuat impian membutuhkan sebuah keberanian.
Friday, January 23, 2009
Menyadari Diri dan Alam
Seorang tidak akan dapat menyadari nilai apa pun di dunia sebelum ia bersedia mengambil jarak darinya dan menjadikannya sebagai objek pemahaman. Demikian pula bila kita ingin mengenal "diri" sekaligus medan operasionalnya yang berupa 'alam', kita harus rela berjarak dengannya. Caranya adalah melaksanakan ibadah puasa, yaitu berhenti melayani tuntutan-tuntutan "jiwa" dan "raga" selama waktu tertentu. Pada saat itu kita akan merasakan betapa lemahnya "diri" dan betapa tingginya nilai sumber daya alam (rahmat) bagi kehidupan manusia.
Sebelum itu kita memiliki praduga yang salah terhadap kenyataan. Diri kita selalu merasa lebih tinggi dari semua yang ada di kolong langit. Alam seisinya hanya kita anggap sebagai milik yang sepantasnya untuk diperebutkan dan dimanfaatkan sekehendak hati. Seolah dunia ini boleh saja kiamat setelah kita selesai menggunakannya. Padahal tidak demikian kenyataannya.
Sungguh, pentciptaan langit dan bumi jauh lebih hebat dari penciptaan manusia. Sayang, kebanyakan manusia tidak mengetahui (al-Mu'min:57, at-Tin:5).
Ketinggian martabat manusia di depan alam bukanlah terletak pada persepsi mereka tentangnya, melainkan pada iradah Tuhan yang menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi (al-Baqarah:30,34).
Sikap hidup kaum muslim tidak bergantung pada "persepsi" yang selalu berubah-ubah sifatnya dan tidak karuan ujungnya. Selain itu, persepsi hanyalah hasil aktivitas akal di dalam menginterpretasikan fenomena alam (kehidupan) untuk mengembangkan wawasannya tentang kenyataan, dan tidak akan pernah memadai untuk diangkat sebagai pemandu kehidupan.
Biang keladi kejatuhan Iblis dari surga ke dalam neraka adalah karena ia mencoba menggunakan "persepsi"-nya untuk membantah Tuhan ketika ia disuruh bersujud kepada Adam.
"Sabda Tuhan,'Apa yang menghalangimu untuk bersujud ketika Kuperintahkan kepadamu?' Iblis menjawab (berpresepsi): 'Aku lebih mulia darinya. Kau ciptakan aku dari api, sedang ia Kauciptakan dari tanah liat." (al-A'raf:12).
Potensi akal yang sedianya diamanatkan Allah kepada manusia untuk mengurus alam, disalahgunakannya untuk kepentingan pribadi (nafsu, etnis, ideologi, dsb.). Akibatnya, manusia akan menemukan dirinya sebagai budak benda-benda dan citaannya sendiri.
Sebelum itu kita memiliki praduga yang salah terhadap kenyataan. Diri kita selalu merasa lebih tinggi dari semua yang ada di kolong langit. Alam seisinya hanya kita anggap sebagai milik yang sepantasnya untuk diperebutkan dan dimanfaatkan sekehendak hati. Seolah dunia ini boleh saja kiamat setelah kita selesai menggunakannya. Padahal tidak demikian kenyataannya.
Sungguh, pentciptaan langit dan bumi jauh lebih hebat dari penciptaan manusia. Sayang, kebanyakan manusia tidak mengetahui (al-Mu'min:57, at-Tin:5).
Ketinggian martabat manusia di depan alam bukanlah terletak pada persepsi mereka tentangnya, melainkan pada iradah Tuhan yang menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi (al-Baqarah:30,34).
Sikap hidup kaum muslim tidak bergantung pada "persepsi" yang selalu berubah-ubah sifatnya dan tidak karuan ujungnya. Selain itu, persepsi hanyalah hasil aktivitas akal di dalam menginterpretasikan fenomena alam (kehidupan) untuk mengembangkan wawasannya tentang kenyataan, dan tidak akan pernah memadai untuk diangkat sebagai pemandu kehidupan.
Biang keladi kejatuhan Iblis dari surga ke dalam neraka adalah karena ia mencoba menggunakan "persepsi"-nya untuk membantah Tuhan ketika ia disuruh bersujud kepada Adam.
"Sabda Tuhan,'Apa yang menghalangimu untuk bersujud ketika Kuperintahkan kepadamu?' Iblis menjawab (berpresepsi): 'Aku lebih mulia darinya. Kau ciptakan aku dari api, sedang ia Kauciptakan dari tanah liat." (al-A'raf:12).
Potensi akal yang sedianya diamanatkan Allah kepada manusia untuk mengurus alam, disalahgunakannya untuk kepentingan pribadi (nafsu, etnis, ideologi, dsb.). Akibatnya, manusia akan menemukan dirinya sebagai budak benda-benda dan citaannya sendiri.
Thursday, January 22, 2009
Mulailah Sekarang Juga !
Sebagian besar dari orang di dalam hatinya pernah terucap “Seandainya saya punya banyak uang … Seandainya saya punya waktu untuk … Seandainya saya dapat pekerjaan yang lebih baik … Seandainya saya menemukan jalan lain meraih lebih banyak uang … Seandainya …”
Adalah hal yang wajar jika kita selalu menginginkan kehidupan yang lebih baik. Tapi banyak di antara kita yang tidak melihat jalan setapak yang jelas untuk menuju ke sana. Padahal, seperti banyak hal dalam hidup ini, keberhasilan datang melalui dedikasi, kebulatan hati, hasrat dan komitmen.
Anda mungkin punya semua itu, tapi tidak mempunyai keahlian dalam bisnis, tidak punya modal dan pengetahuan untukul memulai dan membangun sebuah bisnis. Bahkan mungkin tidak memiliki keberanian untuk memulainya.
Terkadang kita sering mengeluh beratnya memulai sebuah bisnis. Namun santai saja Anda tidak sendirian. Saya pun sekarang juga sedang merasakannya. Yang terpenting Anda sudah mengambil langkah untuk memulai. Karena perlu keberanian untuk memulai sebuah usaha.
Terkadang masalah modal menjadi alasan klasik kita untuk tidak berbisnis. Untuk mewujudkan ide bisnis untuk menjadi sebuah bisnis memang harus bermodal. Namun janganlah kita selalu beranggapan bahwa modal selalu berwujud uang. Saya lebih senang menerjemahkan modal sebagai sebuah usaha kita berpikir memberdayakan otak secara aktif dan lincah.
Untuk melatih memberdayakan otak kita mengapa kita tidak coba dulu untuk jadi makelar. Seorang makelar tidak membutuhkan modal yang banyak, bahkan sering hanya cukup bermodal keuletan saja dan resikonya pun tergolong tidak begitu besar. Banyak manfaat yang bisa kita ambil dengan menjadi makelar, selain intuisi bisnis kita terasah jaringan atau relasi bisnis pun bertambah. Dan peluang usaha akan semakin sering menghampiri kita.
Adalah hal yang wajar jika kita selalu menginginkan kehidupan yang lebih baik. Tapi banyak di antara kita yang tidak melihat jalan setapak yang jelas untuk menuju ke sana. Padahal, seperti banyak hal dalam hidup ini, keberhasilan datang melalui dedikasi, kebulatan hati, hasrat dan komitmen.
Anda mungkin punya semua itu, tapi tidak mempunyai keahlian dalam bisnis, tidak punya modal dan pengetahuan untukul memulai dan membangun sebuah bisnis. Bahkan mungkin tidak memiliki keberanian untuk memulainya.
Terkadang kita sering mengeluh beratnya memulai sebuah bisnis. Namun santai saja Anda tidak sendirian. Saya pun sekarang juga sedang merasakannya. Yang terpenting Anda sudah mengambil langkah untuk memulai. Karena perlu keberanian untuk memulai sebuah usaha.
Terkadang masalah modal menjadi alasan klasik kita untuk tidak berbisnis. Untuk mewujudkan ide bisnis untuk menjadi sebuah bisnis memang harus bermodal. Namun janganlah kita selalu beranggapan bahwa modal selalu berwujud uang. Saya lebih senang menerjemahkan modal sebagai sebuah usaha kita berpikir memberdayakan otak secara aktif dan lincah.
Untuk melatih memberdayakan otak kita mengapa kita tidak coba dulu untuk jadi makelar. Seorang makelar tidak membutuhkan modal yang banyak, bahkan sering hanya cukup bermodal keuletan saja dan resikonya pun tergolong tidak begitu besar. Banyak manfaat yang bisa kita ambil dengan menjadi makelar, selain intuisi bisnis kita terasah jaringan atau relasi bisnis pun bertambah. Dan peluang usaha akan semakin sering menghampiri kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)